Buku ini merupakan karangan Nora Ephson, penulis You've Got Mail, Sleepless in Seattle, dan When Harry Met Sally...)
Dari daftar karangan sebelumnya si pengarang, dapat dibayangkan bagaimana bagusnya buku ini. Halamannya tipis, tapi saya tidak dapat menyelesaikannya dengan cepat, karena saya sangat menikmati setiap kata yang ditulis oleh Nora. Setiap kalimat yang ia tulis selalu membuat saya terperangah dan berpikir, dan saya selalu penasaran apa yang kira-kira akan dibahas pada bab berikutnya.
Bab pertama dibuka dengan I Feel Bad About My Neck, mungkin sebagian dari kita berpikir, kenapa Neck (leher)? bukan wajah, rambut atau bagian tubuh yang lainnya? setelah saya baca, ternyata Nora menyesal karena ia telah mengabaikan leher-nya selama ini. Setelah berumur 45 tahun, ia baru menyadari kalau lehernya telah berubah dari leher yang kencang saat ia muda, menjadi leher yang bergelambir penuh lemak saat ia tua.
Lalu di Bab kedua bercerita tentang I Hate My Bag, dimana diceritakan tentang wanita yang rela membayar ribuan dollar dan menjadi "waiting list" dari sebuah toko tas demi mendapatkan tas yang saat itu sedang "in" atau tas yang klasik sehingga sulit diperoleh. Ia juga menceritakan tentang wanita yang menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya untuk melakukan perawatan. Rambut, wajah, kulit, rambut yang tidak diiniginkan, kuku, dll.
Ada satu ilustrasi yang membuat saya terhenyak, berikut ilustrasi tersebut:
Seorang pria dan seorang wanita tinggal di sebuah rumah yang terletak di semenanjung yang terpencil. Ibu si pria datang untuk tinggal di sana sementara si pria pergi melakukan perjalanan bisnis. Si wanita dengan menumpang feri pergi menemui kekasihnya. Mereka bercinta. Setelah selesai, ia sadar bahwa hari sudah malam, lalu ia segera bangkit, berpakaian, dan bergegas mengejar feri untuk kembali pulang. Tapi ia ketinggalan feri terakhir. Ia memohon kepada kapten kapal feri. Sang kapten mau mengantarnya kembali ke semenanjung jika ia membayar enam kali lipat dari ongkos normal. Namun si wanita tersebut tidak punya uang sebanyak itu. Ia pun terpaksa pulang berjalan kaki. Dalam perjalanan pulang, ia diperkosa dan dibunuh oleh orang tak dikenal.
Pertanyaannya adalah: Siapa yang bertanggung jawab atas kematian wanita itu, dan bagaimana urutannya -- wanita itu sendiri. si pria, ibu si pria, kapten kapal feri, kekasih wanita itu, atau si pemerkosa?
Disebutkan bahwa pertanyaan ini multi-interpretatif dan setiap orang pasti memiliki jawaban dan alasan yang berbeda. Ilustrasi diatas membuat saya berpikir tentang bagaimana saya bisa menjadi seperti saya sekarang ini?
Di akhir bab, ia menuliskan:
Tapi, janganlah kita berpikir yang bukan-bukan.
Mari kita pasang senyum di wajah kita.
Mari kita tertawa lepas.
Makan, minum, dan menikah.
Nikmati hidup.
Kehidupan terus berjalan.
Bisa jadi lebih buruk.
Mengingat alternatifnya.
Sementara itu, disinilah kita.
Apa yang mesti kita lakukan?
Labels: Book Review
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment